Rabu, 26 Maret 2014

Ketika Senja Datang

Aku selalu teringat. Kenangan terindah yang kau buat di kala itu. Dikala gundah kau hampiri aku. Kau pegang erat tangan ku lalu kau bawa aku kesebuah tempat yang tak ada di benakku, aku bertanya pada hati ini,kemana kau kan bawa aku. Sepanjang jalan tak ada sepatah kata pun yang meluncur dari bibirmu.begitupun aku, kau dan aku terdiam, hanya suara bising vespa butut yang seharusnya istirahat tapi dipaksa untuk berlari yang tak tau arah tujuan. vespa pun pasrah.
“STOP!”. Satu kata yang meluncur dari bibirnya, dengan cepat ku injak rem pesva ku yang sebenarnya sudah lelah. Perlahan aku menepi.
            “disini?” Tanya ku singkat. ku sandarkan sahabat ku lalu ku titipkan pada rindangnya pohon beringin agar dia tidak kesepian.
 “titip pesva ku ya pohon beringin yang cantik…!” ucapku berbisik.
Kesibukanku membuat aku lengah. Aku kehilangan dia. Kesibukanku berganti. Dimana dia ?
kuberlari ke bibir pantai. Terdengar suara merdu memanggilku. Oh ternyata dia. Kuberlari menghampiri dia seraya menarik nafas, Akhirnya ku temukan dia” gumamku.
Tanpa bersalah dia telah meninggalkanku, dengan senyum manja dia berkata “coba lihat…!”, bola mata ku berputar mengikuti arah jari telunjuknya .Hmm senja lagi padahal sudah sering aku melihatnya walaupun di teras rumah kontrakan dengan menggunakan sarung dan duduk di kursi ditemani secangkir kopi. Tapi ini berbeda.senja yang eksotis (berkata dalam hati). Kilasan cahaya yang indah dengan memantulkan cahaya keemasan seolah menyatu dengan birunya samudera dan menyaksikan bayang matahari yang beranjak pulang. Tahukah? Itu sungguh menakjubkan, karena tak ada hujan membasahi semesta.
Aku terhanyut. Diam. Entah apa yang aku rasakan dikala itu. Mata kita sama-sama terpaku. Bukan saling menatap. Tidak. Tapi, karena sama-sama terhipnotis  indahnya senja di cakrawala barat yang perlahan meredup diiringi ratusan burung-burung camar yang entah darimana asalnya. Aku tergagu, engkau mematung. Kita sama-sama larut dalam kemegahan alam yang aku tak yakin dapat setiap waktu menjumpainya. Tanganmu menggenggam jemariku erat. Terasa hangat.sperti ada yang mengalir di saraf ku. Aku terhipnotis entah keindahan senja apa karena kau. Semuanya indah. Begitu indah. Bukan senja tapi kau wahai penghuni senja.
Senja itu menjadi hari terindah yang pernah kumiliki. Karena tak ada lagi pertemuan setelahnya. Aku kehilanganmu.  sejak saat itu, hatiku telah berlimpah cinta. Dan kau, tidak mengizinkanku untuk mengungkapkannya. Aku seperti burung camar yang tak lagi melewati megahnya matahari. Aku seperti bulan yang tak dapat berjumpa malam. Lebih menyesakkan karena bayanganmu terus menyertaiku.
Aku menyimpan rindu ketika senja itu datang. kini aku menyapa senja seorang diri.  Seringkali aku menepi ke pantai . berharap engkau datang lagi seperti hari itu. Ku duduk di sebuah kursi yang telah usang, dimana dulu kita menyaksikan pegelaran samudera bercinta dengan keindahan cakrawala. Ternyata aku sendiri kursi sebelah kiri ku masih saja tak berpenghuni. Tak sabar rasanya berharap kau kembali wahai penghuni senja. Kini hanya sekedar bias bayangan yang terlintas dalam cahaya senja. Burung camar pun ikut  larut dan hilang seolah menjadi piguran dalam suasana yang kurasakan saat ini. Andai ku tau dimana kau berada wahai ratusan camar akan ku giring untuk mengiringi dan menghiasi bias-bias cahaya yang akan meredup. Ahh terasa sepi. Semua tak ada yeng berpihak kepadaku. Kosong hanya suara debur ombak yang seolah mentertawakan ku. Mungkin menerima keadaan itu lebih baik.
Senja selalu menjadi bagian romantis. Bahkan ketika sendiri. Tak perduli ada ratusan burung camar yang menghiasi angkasa,  gemuruh ombak , dan lintasan perahu nelayan yang beranjak pulang. Entah dinikmati sendiri atau bersama teman atau bahkan bersama nenek-nenek sekalipun. Sebab, aku tahu, sebenarnya aku tak hanya sedang menikmati keindahannya, melainkan karena sebagian  jiwaku berada di dalamnya. Lalu kau bawa pergi wahai penghuni senja.
Kini hidup terasa hampa, separuh jiwaku hilang, hatiku tak tenang. Kau hanya mengizinkan aku menikmati bayang mu menyelimuti ruang hidup. Mengapa kau tak mengerti ? begitu berarti kehadiranmu dalam hidupku. Kemana kau perempuan senja ?
Suatu ketika aku pergi, pergi jauh berharap melupakan harapan yanga hanya membuatku rapuh. Seperti biasa ku ajak sahabat yang setia menemaniku, sahabat yang tak pernah mengeluh apabila ku ajak kemanapun aku mau. Denga satu liter bensin pun dia siap menghilangkan semua penat dihatiku. Tanpa ku sadari sudah terlalu jauh aku melaju, entah apa yang aku fikirkan hingga arah tujuanku hilang. Sahabatku marah, putaranya terhenti perlahan seraya terangguk-angguk, baru ku tersadar, “ ada apa sahabatku?” gumamku. Astaga cairan keemasan ternyata sudah mengering dalam tubuhnya. Hmm andai kau bisa bicara, mungkin kau sudah memarahiku karena ku tak perduli.
Akhirnya kuputuskan untuk menepi, ku hampiri sebuah kursi kusam berwarna abu-abu. Sebuah pohon beringin besar berusia lanjut berada tepat dibelakangnya. Ku pasangkan standar dua sahabatku lalu ku duduk di kursi itu. Ku sandarkan bahuku ke kursi, ku lipat kedua tangan ku ke belakang untuk mengganjal kepala ku, serta ku naikan kedua kaki ke atas punggung sahabatku yang berada tepat di depan ku. Ku tarik nafas menghirup udara segar di tempat yang sebenarnya akupun tak tahu sedang dimana aku berada.
Ah masa bodo. Terlalu menikmati ketenangan di tempat itu hingga aku terpakasa megikuti suasana yang telah mereka berikan. Terlelap aku memejamkan mata tanpa sadar sudah terlalu lama aku berada di bawah alam sadar. Tak ada mimpi yang datang menghampiri, semua tenang tak ada yang mengganggu. Tiba terdengar debur ombak di iringi hembusan angin yang menyentuh kulit ku membuatku terperanjat bangun dari bawah alam sadar ku. Seperti orang yang baru terbangun dari koma, aku bertanya pada diriku sendiri, “dimana aku ? kenapa aku seperti mendengar deburan ombak ? apa aku bermimpi ?” berkata dalam hati seraya menampar kedua pipiku, “aww”, sakit. Ternyata aku tidak bermimpi, semakin penasaran aku cari sumber suara itu, dengan hati tak percaya ku telusur di balik pohon beringin itu. Aku tercengang, astaga kenapa aku baru sadar kalau ternyata aku berada di tepi pantai, dengan wajah tak percaya aku lebih mendekat ke tepi pantai, menapaki butiran pasir yang perlahan tersapu ombak. Kenapa harus pantai lagi, lagi dan lagi.
Membosankan. Aku tak mau kejadian itu terulang kembali. Perempuan itu selalu muncul saat di mana siang merasa kalah. Tepat ketika matahari mulai tenggelam dan segalanya berwarna hitam. Dia hadir begitu saja dari ujung cakrawala. Sesekali dia muncul di antara barisan burung camar dan gumpalan awan. Tak jarang dia hadir ketika sampan-sampan nelayan bersandar di bawah pohon kelapa. Barangkali juga dia tercipta dari butiran pasir dan buih-buih. Benarlah perkiraanku dia datang. Tapi bukan dia. Bukan dia yang telah tega membawa separuh jiwaku. Ini berbeda, tapi kenapa senja itu selalu berpenghuni ?
Perempuan senja, begitulah aku menyebutnya. Awalnya, dia muncul ketika senja menampakkan sinarnya. Aku kira hanya bagian khayalan ku yang terhipnotis oleh keindahan senja.
Tapi tidak. Dia benar-benar tercipta begitu saja dan berdiri di hadapanku dengan wajah penuh harapan. Aku tak  mengerti hingga dia membuka sapa. Aku tidak mau ditipu senja . hingga dengan setengah memaksa dia mengajakku berkenalan. Perlahan dia ulurkan tangan kanannya dengan senyuman manis di bibirnya. Dengan hati ragu akupun mencoba menepis keraguan itu, tangan ku seolah tertarik magnet bergerak menyatukan telapak tangan, rasa itu kembali muncul serasa aliran listrik berjalan cepat memenuhi saraf ku. “wike” dengan lembut dia berucap menyebut namanya. Begitupun diriku, dengan terbata-bata dan bersusah payah aku menyebut nama ku, berat sekali rasanya, mata ku tak berhenti menatapnya.
Maka, seperti sepasang kekasih kami menghabiskan waktu senja dengan segala kerinduan yang terasa hambar, karena kerinduan itu bukan untuknya. Tapi aku tidak terlalu peduli apakah dia manusia sungguhan atau roh jahat. Yang pasti, aku telah menyukainya.
Itulah awal semua. Dia muncul dari balik kabut saat malam baru membuka diri. Kami telah kehilangan kalimat untuk sebuah percakapan. Ketika malam menjelang dia akan pergi begitu saja sebagaimana datangnya. Dia hilang di telan gelapnya malam, tanpa sapa sebagaimana dia datang.  Kenapa harus seperti itu lagi, kenapa harus terulang untuk kedua kalinya. Aku merasakan jiwa ku kembali datang, tapi kenapa terlalu kejam kau bawa jiwaku dalam gelap malam dimana kau menghilang. Kini aku kembali pada jiwa ku yang rapuh, jiwa yang terlalu lemah menerima pahitnya kerinduan. Senja adalah waktu yang paling nikmat untuk mengutuk apa saja. Aku tak begitu mengerti mengapa aku begitu membenci setelah kejadian itu. Setelah puas dengan amarah hati aku akan meninggalkan pantai dengan penuh rasa hampa.Begitulah kebiasaanku sebelum kemudian bergelut dengan malam  di balik selimut. Atau melakukan hal yang di luar nalar.
Malam adalah kutukan. Kota tak pernah memberi ruang untuk sebuah basa-basi . Tak ada yang lebih nikmat selain berjalan sepanjang lorong yang mencekam, dengan tubuh sempoyongan, atau sekadar duduk di sembarang taman. Jika punya uang berlebih, tentu tak lupa kuhabiskan di tempat hiburan.
Aku tinggal sendiri di kota ini dengan memiliki sebagian malam. Aku tak punya kebiasaan lain selain menikmati rokok di bawah cahaya sambil memperhatikan asapnya mengepul di udara. Atau mengoceh sendirian dengan botol minuman sebelum akhirnya tersungkur di jalanan. Biasanya, sebelum matahari mencipta cahaya, aku sudah lelap di kamar kontrakan.
Betapa nikmat hidupku, melewati sepanjang pagi dan siang dengan
bantal guling yang membawaku ke alam mimpi. Terbangun ketika sore menyapa.
Aku tak pernah menduga akan mengalami kejadian yang tak sekalipun aku mimpikan. Sore itu, seperti sore-sore sebelumnya, aku tengah bercakap-cakap dengan gemuruh ombak dan buih-buih.
Mendung separuh menggantung di langit musim kemarau. Barangkali hanya kabut atau  kebulan asap yang biasa di hembuskan pabrik. Tapi tidak! Sebelum matahari benar-benar kusam, gerimis tiba-tiba jatuh. Hujan senja di musim kemarau. Matahari masih menatap dan cahayanya memantul pada bebatuan dan karang-karang. Hujan tapi panas. Ada pelangi yang terbentuk bagai sebuah jembatan dari ujung langit.
Ketika kusam menyempurnakan diri, kulihat sebentuk kabut hitam di antara gumpalan awan putih.  Melayang di antara sisa cahaya. Makin lama makin nyata. Ketakutan tiba-tiba menghujaniku. Apakah karena aku yang terlau berharap dia kembali?  Atau mungkinkah pelangi pada sebuah sore bergerimis membuat apa saja menjadi nyata?
Aku tak cukup mampu menerjemahkannya ketika bayangan itu benar-benar menjelma sesosok manusia. Melayang di antara gelombang dan air pasang. Di balik ombak dia menjelma sosok perempuan. Sialan, hantu-hantu bisa saja bergentayangan di waktu-waktu begini, tapi kenapa mesti berwujud seorang perempuan  cantik ? Sialan, dia mendekat. Tubuh ramping itu terbalut gaun kuning panjang menutupi hingga mata kakinya. Tak salah lagi, ini pasti sisa-sisa hantu jaman kolonial. Rambutnya kuning panjang dan sedikit keriting, hidungnya mancung dan tubuhnya begitu semampai. tercium aroma kembang yang menusuk. Kenapa selalu wanita yang datang di saat senja menampakan dirinya.
Dia kian dekat dan sialnya, aku tidak bisa bergerak. Mataku terpaku pada sosok yang kini berdiri di hadapanku. Sumpah, aku tak bisa menyebutkan apa-apa tentang dia. Kali ini aku melihat perempuan yang luar biasa dan aku tak cukup mampu menyebutkan keindahannya. Semua  pasti mengira aku telah jatuh cinta.
Dia tersenyum padaku tetapi tak cukup mampu membuatku bisa membalasnya.
"
putri duyung, jin laut, hantu air, nyi roro kidul sekalipun, kau salah jika mengganggu orang seperti aku," gumamku.
Tak kusangka dia malah tertawa memperlihatkan barisan giginya yang putih rapi.
"Aku ingin mengenalmu, apakah berlebihan?" Katanya kemudian. "Aku sering melihat dan mendengarmu m
embenci malam. sepertinya kau begitu menyukai siang sehingga tak ingin melepaskan. Aku cemburu. Kau begitu benci pada malam?"

"Bedebah. Tapi kau cantik juga,"
gumamku.
"Ajarkan aku mengenal siang," pintanya.
"Aku lahir di sebuah tempat di mana matahari selalu tenggelam." Katanya suatu kali. "Aku ingin melihat pagi saat di mana matahari naik dan kemudian tenggelam."
Kulihat matanya berbinar.
"Apakah kau ingin mengenal negeri yang punya matahari?" tanyaku mencoba menebak keinginannya. "Aku bukanlah manusia yang sadar ketika matahari menyala." Dia tampak kecewa.Aku tidak pernah menyukai siang. Ia tidak seperti apa yang kau bayangkan. Aku menghabiskan sepanjang siang dengan tidur panjang," aku mencoba menjelaskan.
Tangannya mencengkeram bahuku, ketakutan.
"Apakah siang begitu menakutkan?"
"Amat sangat. Bahkan menjijikkan."
"Apa bedanya dengan malam?"
“Ah sudahlah terlalu rumit aku menjelaskan siapa yang lebih indah malam atau siangkah, semua sama tetap gelap, kelam”.
 Hmm wajah dia mulai menekuk, meratapi kekecewaan sepertinya dia berharap siang itu indah.  wajah itu larut dalam kesedihan. Aku menepis, ku alihkan pembahasan yang tak kunjung akhirnya . Sekejap saja dia telah lupa dengan segala kebingungan dan kehilangan selera untuk kembali bertanya. Segera kebingungan ini digantikan adegan yang lain.
Ku habiskan malam berdua, tak perduli angin berjembus menusuk tulang, ombak berdebur begitu kencang, burung camar berlalu lalang yang sebenarnya ingin di sapa. Senja kini tak ku nikmati, ku abaikan lalu ku berganti ke pandangan lain. Semakin larut, aku larut dalam canda tawa, parade cinta yang begitu indah, tak perduli gulita itu menegur untuk memaksaku beranjak pulang, ah masa bodo . aku hanya tak mau melewati keindahan dihadapan ku, sayang untuk di lewati.  penghuni sekitar hanya menjadi saksi, saksi dari semua keindahan itu tercipta . aku terhipnotis.
Dengan mudah dia berbaring di pangkuanku seraya berkata “tak marah kan ?” pintanya berharap. Sudah pasti aku tak mungkin menolaknya, sayang untuk diabaikan. Sampai aku lupa dia itu siapa, tak perduli dimana asalnya. Ku belai rambutnya , helai demi helai kurasakan kelembutan mahkota itu. Tak sadar kami terlelap, menapaki jejak mimpi yang tak tau itu mimpi ataukah pantulan adegan kami. Tak ada yang menegur, tak ada yang menyapa, tak ada yang perduli seolah membiarkan kami menyatu dengan malam.
Selalu. Sebelum subuh dia berlalu. Tanpa jejak, tanpa salam pamit , dan pesan pun tak ada. Kenapa harus kembali terulang, kenapa pagi selalu menjadi kejadian pahit yang tak pernah ku harapkan harusnya pagi menjadi awal dari kebahagiaan, awal dari sebuah cerita bukan akhir menelan kepahitan. Amarah kembali datang, kekecewaan sudah mencapai level akhir. Harusnya kebingungan ini berakhir jika dia mau menceritakan dari mana dia berasal. Aku selalu lupa untuk bertanya sesuatu tentang dirinya. Tak ada yang kuketahui tentang dia kecuali kebersamaan yang tercipta di malam buta dan dia tercipta dari senja. Aku tak berani untuk sekedar bertanya. Apakah segalanya akan menjadi terbuka ketika aku bisa bertanya kampung halaman dan dari mana dia berasal. Dia selalu meninggalkan kesedihan yang paling dalam sebelum menghilang di balik pekatnya pagi buta.
Kali ini dia telah membuatku benar-benar marah. Kesedihanku pun telah mencapai level akhir , kembali rapuh, kali ini tak bisa aku bendung, Aku paling tidak suka lihat air mata. Terlalu cengeng.
Menyesal aku menjawab semua pertanyaan-pertanyaan mu yang sebenranya akupun tak tahu jawabanya. Aku tak cukup tahu, siang atau malamkah yang lebih indah. Aku tak peduli pada itu semua karena siang tak pernah aku lewati dengan indah. Aku tak pernah tahu apa-apa tentang siang seperti aku tidak tahu siapa dan dari mana kamu berasal. Aku berteriak penuh emosi, “siapa kau sebenarnya wahai  penghuni senja...kemana aku bisa menemukan mu jikalau aku rindu padamu...?”
Bertekuk lutut aku di hadapan samudera pagi yang bergemuruh, pasrah akan semua keadaan, menundukan kepala seolah tak berdaya berharap samudera pagi menunjukan jejaknya. Tapi tak mungkin, kau hanya bisa mentertawakanku dengan desir pasir yang kau sapu, terbahak-bahak dengan gemuruh ombakmu. “Baiklah, kalau kau tidak mau memberitahuku biarlah aku belajar mencarinya sendiri." Ucapku pasrah.
Aku merasa kian marah saja. Darah naik ke ubun-ubunku. Kepalaku terasa mau pecah. Marah yang luar biasa.
Ku berjalan menyusuri pantai tak perduli disekeliling menatapku curiga, aku terus mengoceh tak karuan, "Pergi saja kau perempuan senja. Kau telah menyakitiku dengan pertanyaan pahit ini. Kau menyudutkanku dengan pertanyaan itu. pertanyaan siang, malam, asalmu, semua tak ada jawaban . kau bangkitkan kelemahanku yang tidak mengetahui sebagian waktu.  Kau tahu, matahari hanya milik sebagian orang. Bukan aku, bukan kamu...," emosi mulai ku pendam.
Tak terasa langkah ini mengantarkan ku ketempat peraduan, ketempat yang tau bagaimana aku menyaksikan siang. Kubanting pintu dengan kemarahan yang luar biasa. Tapi kini tak seperti biasanya aku menikmatinya, menikmati matahari memancarkan cahanya, Perempuan itu telah membuat aku tak bisa tidur sepanjang siang tiap kali pertanyaannya menghantuiku. Duduk termenung di atas kasur yang sebenarnya sudah bosan melihat tingkah aneh ku. Pikiranku kosong menatap buntu ke dinding kusam. Waktu cepat berlalu, matahari mulai pergi tanpa pamit. Gulita datang. Membosankan , akhirnya aku pergi tapi tak ke tempat itu. Ternyata malam hanya menyisakan waktu seperempatnya. Aku menghabiskan sisa malam di jalan yang sudah lengang. Malam sedikit terang oleh cahaya lampu kota. Separuh bulan muncul di langit yang tampak kusam. Tiba-tiba selebat  perempuan langit berpindah arah dengan selendang. Amarahku tiba-tiba hilang, aku teringat dia. Tanpa pikir panjang  Aku berlari ke tempat itu, berharap perempuan senja datang mencariku, membawa berita untuk menjawab semua ini. Aku berlari tanpa peduli apa yang aku lalui, dengan sedikit amarah bercampur harapan. Aku tiba dengan dengan wajah pucat, dengan keringat mengalir deras di seluruh tubuhku, nafasku semakin kencang. Tapi hanya tatapan kosong yang aku dapatkan, tempat itu tak berpenghuni lagi. Kenapa dia tak kembali datang menemaki seperti malam kemarin, aku ingin tau semua tentang dirimu. Andaikan kau datang, aku kan memeluk erat jiwamu dan tak akan aku lepaskan, aku hanya berharap kau mau menemaniku bukan hanya malam, tapi menikmati siangku. Harapan hanya tinggal harapan, ternyata semua palsu. Mencoba tuk sadar bahwa dia tak kembali menjelma sebagai bidadari penghuni senja. Itu hanya khayalan, aku mencoba meyakinkan diri. Tapi keyakinanku kalah level dengan harapanku. “ya Tuhan kembalikanlah dia” berharap Tuhan mengabulkan. Separuh malam ini aku dipaksa untuk menghabiskan seorang diri tak seperti kemarin. Terpaksa menerima keadaan pahit yang teramat sulit aku terima. Semua hilang tak ada burung camar, langit gelap pekat. Hanya suara desir pasir tersapu ombak yang menemaniku. Sendiri aku diam dan merenung, begitulah malam itu aku lalui.
Pagi datang dengan sepercik sesal yang terus menggulung.harapan kini menjadi angan yang harus ku lupakan . kini petang-petangku yang datang kemudian aku lalui dengan hampa. Perempuan senja pergi. Ia tak pernah datang lagi. Mungkinkah ia kembali ke langit dengan sekeping selendang atau menyusup ke dasar lautan? Aku tak punya jawaban.

Senja
tak pernah ku nikmati lagi , serasa membeku, seperti hatiku yang berupa cadas.
Senja di sore itu menemani kepergianmu
Saat kau tak lagi bersamaku
Perih yang ku rasa mungkin takkan pernah kau gubah
Cinta yang dulu ada kini telah kau bawa

Cinta jangan tinggalkan aku
Karena takkan pernah ada cinta selain dirimu
Cinta takkan sanggup ku menghapus
Segala bayangmu
....
Kembalilah....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar