Aku selalu teringat.
Kenangan terindah yang kau buat di kala itu. Dikala gundah kau hampiri aku. Kau
pegang erat tangan ku lalu kau bawa aku kesebuah tempat yang tak ada di
benakku, aku bertanya pada hati ini,kemana kau kan bawa aku. Sepanjang jalan
tak ada sepatah kata pun yang meluncur dari bibirmu.begitupun aku, kau dan aku
terdiam, hanya suara bising vespa
butut yang seharusnya istirahat tapi dipaksa untuk berlari yang tak tau arah
tujuan. vespa pun pasrah.
“STOP!”. Satu kata yang meluncur dari bibirnya, dengan cepat ku injak
rem pesva ku yang sebenarnya sudah lelah. Perlahan aku menepi.
“disini?”
Tanya ku singkat. ku sandarkan sahabat ku lalu ku titipkan pada rindangnya
pohon beringin agar dia tidak kesepian.
“titip pesva ku ya pohon beringin yang
cantik…!” ucapku berbisik.
Kesibukanku
membuat aku lengah. Aku kehilangan dia. Kesibukanku berganti. Dimana dia ?
kuberlari ke bibir pantai. Terdengar suara merdu
memanggilku. Oh ternyata dia. Kuberlari menghampiri dia seraya menarik nafas, “Akhirnya
ku temukan dia” gumamku.
Tanpa bersalah dia telah meninggalkanku, dengan
senyum manja dia berkata “coba lihat…!”, bola mata ku berputar mengikuti arah
jari telunjuknya .Hmm senja lagi padahal sudah sering aku melihatnya walaupun
di teras rumah kontrakan dengan
menggunakan sarung dan duduk di kursi ditemani secangkir kopi. Tapi ini
berbeda.senja yang eksotis (berkata dalam hati). Kilasan cahaya yang indah
dengan memantulkan cahaya keemasan seolah menyatu dengan birunya samudera dan
menyaksikan bayang matahari yang beranjak pulang. Tahukah? Itu sungguh
menakjubkan, karena tak ada hujan membasahi semesta.
Aku terhanyut. Diam. Entah apa yang aku rasakan
dikala itu. Mata kita sama-sama terpaku. Bukan saling menatap. Tidak. Tapi,
karena sama-sama terhipnotis indahnya
senja di cakrawala barat yang perlahan
meredup diiringi ratusan burung-burung camar yang entah darimana asalnya. Aku
tergagu, engkau mematung. Kita sama-sama larut dalam kemegahan alam yang aku
tak yakin dapat setiap waktu menjumpainya. Tanganmu menggenggam jemariku erat.
Terasa hangat.sperti ada yang mengalir di saraf ku. Aku terhipnotis entah
keindahan senja apa karena kau. Semuanya indah. Begitu indah. Bukan senja tapi
kau wahai penghuni senja.
Senja itu menjadi hari terindah yang pernah
kumiliki. Karena tak ada lagi pertemuan setelahnya. Aku kehilanganmu. sejak saat itu, hatiku telah berlimpah cinta.
Dan kau, tidak mengizinkanku untuk mengungkapkannya. Aku seperti burung camar
yang tak lagi melewati megahnya matahari. Aku seperti bulan yang tak dapat
berjumpa malam. Lebih menyesakkan karena bayanganmu terus menyertaiku.
Aku menyimpan rindu ketika senja itu datang. kini
aku menyapa senja seorang diri. Seringkali aku menepi ke pantai .
berharap engkau datang lagi seperti hari itu. Ku duduk di sebuah kursi yang
telah usang, dimana dulu kita menyaksikan pegelaran samudera bercinta dengan
keindahan cakrawala. Ternyata aku sendiri kursi sebelah kiri ku masih saja tak
berpenghuni. Tak sabar rasanya berharap kau kembali wahai penghuni senja. Kini
hanya sekedar bias bayangan yang terlintas dalam cahaya senja. Burung camar pun
ikut larut dan hilang seolah menjadi
piguran dalam suasana yang kurasakan saat ini. Andai ku tau dimana kau berada
wahai ratusan camar akan ku giring untuk mengiringi dan menghiasi bias-bias
cahaya yang akan meredup. Ahh terasa sepi. Semua tak ada yeng berpihak
kepadaku. Kosong hanya suara
debur ombak yang seolah mentertawakan ku. Mungkin menerima keadaan itu lebih
baik.
Senja selalu menjadi bagian romantis. Bahkan ketika sendiri.
Tak perduli ada ratusan burung
camar yang menghiasi angkasa, gemuruh
ombak , dan lintasan perahu nelayan yang
beranjak pulang. Entah
dinikmati sendiri atau bersama teman atau bahkan bersama nenek-nenek sekalipun.
Sebab, aku tahu, sebenarnya aku tak hanya sedang menikmati keindahannya,
melainkan karena sebagian jiwaku berada di dalamnya. Lalu kau bawa pergi
wahai penghuni
senja.
Kini hidup terasa hampa, separuh jiwaku hilang, hatiku
tak tenang. Kau hanya mengizinkan aku menikmati bayang mu menyelimuti ruang
hidup. Mengapa kau tak mengerti ? begitu berarti kehadiranmu dalam hidupku.
Kemana kau perempuan senja ?
Suatu ketika aku pergi, pergi jauh berharap melupakan
harapan yanga hanya membuatku rapuh. Seperti biasa ku ajak sahabat yang setia
menemaniku, sahabat yang tak pernah mengeluh apabila ku ajak kemanapun aku mau.
Denga satu liter bensin pun dia siap menghilangkan semua penat dihatiku. Tanpa
ku sadari sudah terlalu jauh aku melaju, entah apa yang aku fikirkan hingga arah
tujuanku hilang. Sahabatku marah, putaranya terhenti perlahan seraya
terangguk-angguk, baru ku tersadar, “ ada apa sahabatku?” gumamku. Astaga
cairan keemasan ternyata sudah mengering dalam tubuhnya. Hmm andai kau bisa
bicara, mungkin kau sudah memarahiku karena ku tak perduli.
Akhirnya kuputuskan untuk menepi, ku hampiri sebuah kursi
kusam berwarna abu-abu. Sebuah pohon beringin besar berusia lanjut berada tepat
dibelakangnya. Ku pasangkan standar dua sahabatku lalu ku duduk di kursi itu.
Ku sandarkan bahuku ke kursi, ku lipat kedua tangan ku ke belakang untuk
mengganjal kepala ku, serta ku naikan kedua kaki ke atas punggung sahabatku
yang berada tepat di depan ku. Ku tarik nafas menghirup udara segar di tempat
yang sebenarnya akupun tak tahu sedang dimana aku berada.
Ah masa bodo. Terlalu menikmati ketenangan di tempat itu
hingga aku terpakasa megikuti suasana yang telah mereka berikan. Terlelap aku
memejamkan mata tanpa sadar sudah terlalu lama aku berada di bawah alam sadar.
Tak ada mimpi yang datang menghampiri, semua tenang tak ada yang mengganggu.
Tiba terdengar debur ombak di iringi hembusan angin yang menyentuh kulit ku
membuatku terperanjat bangun dari bawah alam sadar ku. Seperti orang yang baru
terbangun dari koma, aku bertanya pada diriku sendiri, “dimana aku ? kenapa aku
seperti mendengar deburan ombak ? apa aku bermimpi ?” berkata dalam hati seraya
menampar kedua pipiku, “aww”, sakit. Ternyata aku tidak bermimpi, semakin
penasaran aku cari sumber suara itu, dengan hati tak percaya ku telusur di
balik pohon beringin itu. Aku tercengang, astaga kenapa aku baru sadar kalau
ternyata aku berada di tepi pantai, dengan wajah tak percaya aku lebih mendekat
ke tepi pantai, menapaki butiran pasir yang perlahan tersapu ombak. Kenapa
harus pantai lagi, lagi dan lagi.
Membosankan. Aku tak mau kejadian itu terulang kembali. Perempuan
itu selalu muncul saat di mana siang merasa kalah. Tepat ketika matahari mulai
tenggelam dan segalanya berwarna hitam. Dia hadir begitu saja dari ujung
cakrawala. Sesekali dia muncul di antara barisan burung camar dan gumpalan
awan. Tak jarang dia hadir ketika sampan-sampan nelayan bersandar di bawah
pohon kelapa. Barangkali juga dia
tercipta dari butiran pasir dan buih-buih.
Benarlah perkiraanku dia datang. Tapi bukan dia. Bukan dia yang telah tega
membawa separuh jiwaku. Ini berbeda, tapi kenapa senja itu selalu berpenghuni ?
Perempuan senja, begitulah aku menyebutnya. Awalnya,
dia muncul ketika senja menampakkan
sinarnya. Aku kira hanya bagian khayalan ku yang terhipnotis oleh keindahan senja.
Tapi tidak. Dia benar-benar tercipta begitu saja dan
berdiri di hadapanku dengan wajah penuh harapan. Aku tak mengerti hingga dia membuka sapa. Aku tidak
mau ditipu senja . hingga dengan setengah memaksa dia mengajakku berkenalan. Perlahan dia ulurkan tangan kanannya dengan senyuman
manis di bibirnya. Dengan hati ragu akupun mencoba menepis keraguan itu, tangan
ku seolah tertarik magnet bergerak menyatukan telapak tangan, rasa itu kembali
muncul serasa aliran listrik berjalan cepat memenuhi saraf ku. “wike” dengan
lembut dia berucap menyebut namanya. Begitupun diriku, dengan terbata-bata dan
bersusah payah aku menyebut nama ku, berat sekali rasanya, mata ku tak berhenti
menatapnya.
Maka, seperti sepasang kekasih kami menghabiskan
waktu senja dengan segala
kerinduan yang terasa hambar, karena
kerinduan itu bukan untuknya. Tapi aku tidak terlalu
peduli apakah dia manusia sungguhan atau roh jahat. Yang pasti, aku telah
menyukainya.
Itulah awal semua. Dia muncul dari balik kabut saat
malam baru membuka diri. Kami telah kehilangan kalimat untuk sebuah percakapan.
Ketika malam menjelang dia akan
pergi begitu saja sebagaimana datangnya.
Dia hilang di telan gelapnya malam, tanpa sapa sebagaimana dia datang. Kenapa harus seperti itu lagi, kenapa harus
terulang untuk kedua kalinya. Aku merasakan jiwa ku kembali datang, tapi kenapa
terlalu kejam kau bawa jiwaku dalam gelap malam dimana kau menghilang. Kini aku
kembali pada jiwa ku yang rapuh, jiwa yang terlalu lemah menerima pahitnya
kerinduan. Senja adalah waktu yang paling nikmat
untuk mengutuk apa saja. Aku tak begitu mengerti mengapa aku begitu membenci setelah kejadian itu.
Setelah puas dengan amarah hati
aku akan meninggalkan pantai dengan penuh rasa hampa.Begitulah kebiasaanku sebelum kemudian
bergelut dengan malam di balik selimut. Atau melakukan hal yang di luar nalar.
Malam adalah kutukan. Kota tak pernah memberi ruang
untuk sebuah basa-basi . Tak ada yang lebih nikmat selain berjalan sepanjang
lorong yang mencekam,
dengan tubuh sempoyongan, atau sekadar duduk di sembarang taman. Jika punya
uang berlebih, tentu tak lupa kuhabiskan di tempat hiburan.
Aku tinggal sendiri di kota ini dengan memiliki
sebagian malam. Aku tak punya kebiasaan lain selain menikmati rokok di bawah
cahaya sambil memperhatikan asapnya mengepul di udara. Atau mengoceh sendirian
dengan botol minuman sebelum akhirnya tersungkur di jalanan. Biasanya, sebelum
matahari mencipta cahaya, aku sudah lelap di kamar kontrakan.
Betapa nikmat hidupku, melewati sepanjang pagi dan siang dengan bantal guling yang membawaku ke alam mimpi.
Terbangun ketika sore menyapa.
Aku tak pernah menduga akan mengalami kejadian yang
tak sekalipun aku mimpikan. Sore itu, seperti sore-sore sebelumnya, aku tengah
bercakap-cakap dengan gemuruh ombak dan buih-buih.
Mendung separuh
menggantung di langit musim kemarau. Barangkali hanya kabut atau kebulan
asap yang
biasa di hembuskan pabrik. Tapi tidak! Sebelum
matahari benar-benar kusam,
gerimis tiba-tiba jatuh. Hujan senja di musim kemarau. Matahari masih menatap dan cahayanya memantul
pada bebatuan dan karang-karang. Hujan tapi
panas. Ada pelangi yang terbentuk bagai sebuah
jembatan dari ujung langit.
Ketika kusam
menyempurnakan diri, kulihat sebentuk kabut
hitam di antara gumpalan awan putih. Melayang di antara sisa cahaya. Makin lama
makin nyata. Ketakutan tiba-tiba menghujaniku. Apakah karena aku yang terlau berharap dia kembali? Atau mungkinkah pelangi pada sebuah sore
bergerimis membuat apa saja menjadi nyata?
Aku tak cukup mampu menerjemahkannya ketika bayangan
itu benar-benar menjelma sesosok manusia. Melayang di antara gelombang dan air
pasang. Di balik ombak dia menjelma sosok perempuan. Sialan, hantu-hantu bisa
saja bergentayangan di waktu-waktu begini, tapi kenapa mesti berwujud seorang
perempuan cantik ? Sialan, dia mendekat.
Tubuh ramping itu terbalut gaun kuning panjang menutupi hingga mata kakinya.
Tak salah lagi, ini pasti sisa-sisa hantu jaman kolonial. Rambutnya kuning
panjang dan sedikit keriting, hidungnya mancung dan tubuhnya begitu semampai. tercium
aroma kembang yang menusuk. Kenapa selalu
wanita yang datang di saat senja menampakan dirinya.
Dia kian dekat dan sialnya, aku tidak bisa bergerak.
Mataku terpaku pada sosok yang kini berdiri di hadapanku. Sumpah, aku tak bisa
menyebutkan apa-apa tentang dia. Kali ini aku melihat perempuan yang luar biasa
dan aku tak cukup mampu menyebutkan keindahannya.
Semua pasti mengira aku telah jatuh cinta.
Dia tersenyum padaku tetapi tak cukup mampu membuatku
bisa membalasnya.
"putri duyung, jin laut,
hantu air, nyi roro kidul
sekalipun, kau salah jika mengganggu orang seperti aku," gumamku.
Tak kusangka dia malah tertawa memperlihatkan
barisan giginya yang putih rapi.
"Aku ingin mengenalmu, apakah berlebihan?" Katanya kemudian.
"Aku sering melihat dan mendengarmu membenci
malam. sepertinya kau begitu menyukai siang sehingga tak ingin melepaskan. Aku
cemburu. Kau begitu benci pada malam?"
"Bedebah. Tapi kau cantik juga," gumamku.
"Ajarkan
aku mengenal siang," pintanya.
"Aku lahir di sebuah tempat di mana matahari
selalu tenggelam." Katanya suatu kali. "Aku ingin melihat pagi saat
di mana matahari naik dan kemudian tenggelam."
Kulihat
matanya berbinar.
"Apakah kau ingin mengenal negeri yang punya
matahari?" tanyaku mencoba menebak keinginannya. "Aku bukanlah
manusia yang sadar
ketika matahari menyala." Dia
tampak kecewa. “Aku
tidak pernah menyukai siang. Ia tidak seperti apa yang kau bayangkan. Aku
menghabiskan sepanjang siang dengan tidur panjang," aku mencoba
menjelaskan.
Tangannya
mencengkeram bahuku, ketakutan.
"Apakah
siang begitu menakutkan?"
"Amat
sangat. Bahkan menjijikkan."
"Apa
bedanya dengan malam?"
“Ah sudahlah terlalu rumit aku menjelaskan siapa yang
lebih indah malam atau siangkah, semua sama tetap gelap, kelam”.
Hmm wajah dia
mulai menekuk, meratapi kekecewaan sepertinya dia berharap siang itu indah.
wajah itu larut dalam kesedihan. Aku menepis, ku alihkan pembahasan yang tak kunjung
akhirnya . Sekejap saja dia telah lupa dengan
segala kebingungan dan kehilangan selera untuk kembali bertanya. Segera kebingungan ini digantikan adegan
yang lain.
Ku habiskan malam berdua, tak perduli angin berjembus
menusuk tulang, ombak berdebur begitu kencang, burung camar berlalu lalang yang
sebenarnya ingin di sapa. Senja kini tak ku nikmati, ku abaikan lalu ku
berganti ke pandangan lain. Semakin larut, aku larut dalam canda tawa, parade
cinta yang begitu indah, tak perduli gulita itu menegur untuk memaksaku
beranjak pulang, ah masa bodo . aku hanya tak mau melewati keindahan dihadapan
ku, sayang untuk di lewati. penghuni
sekitar hanya menjadi saksi, saksi dari semua keindahan itu tercipta . aku
terhipnotis.
Dengan mudah dia berbaring di pangkuanku seraya berkata
“tak marah kan ?” pintanya berharap. Sudah pasti aku tak mungkin menolaknya,
sayang untuk diabaikan. Sampai aku lupa dia itu siapa, tak perduli dimana
asalnya. Ku belai rambutnya , helai demi helai kurasakan kelembutan mahkota
itu. Tak sadar kami terlelap, menapaki jejak mimpi yang tak tau itu mimpi
ataukah pantulan adegan kami. Tak ada yang menegur, tak ada yang menyapa, tak
ada yang perduli seolah membiarkan kami menyatu dengan malam.
Selalu. Sebelum subuh dia berlalu. Tanpa jejak, tanpa salam pamit , dan pesan pun tak ada.
Kenapa harus kembali terulang, kenapa pagi selalu menjadi kejadian pahit yang
tak pernah ku harapkan harusnya pagi menjadi awal dari kebahagiaan, awal dari
sebuah cerita bukan akhir menelan kepahitan. Amarah kembali datang, kekecewaan
sudah mencapai level akhir. Harusnya kebingungan
ini berakhir jika dia mau menceritakan dari mana dia berasal. Aku selalu lupa
untuk bertanya sesuatu tentang dirinya. Tak ada yang kuketahui tentang dia
kecuali kebersamaan yang tercipta di malam buta dan dia tercipta dari senja.
Aku tak berani untuk sekedar bertanya. Apakah segalanya akan menjadi terbuka
ketika aku bisa bertanya kampung halaman dan dari mana dia berasal. Dia selalu meninggalkan kesedihan
yang paling dalam sebelum menghilang di balik pekatnya pagi buta.
Kali ini dia telah membuatku benar-benar marah. Kesedihanku pun telah mencapai level akhir , kembali
rapuh, kali ini tak bisa aku bendung, Aku paling tidak
suka lihat air mata. Terlalu cengeng.
Menyesal aku menjawab semua pertanyaan-pertanyaan mu yang
sebenranya akupun tak tahu jawabanya. Aku tak cukup
tahu, siang atau malamkah yang lebih indah.
Aku tak peduli pada itu semua karena siang tak
pernah aku lewati dengan indah. Aku tak pernah tahu
apa-apa tentang siang seperti aku tidak tahu siapa dan dari mana kamu berasal.
Aku berteriak penuh emosi, “siapa kau
sebenarnya wahai penghuni senja...kemana
aku bisa menemukan mu jikalau aku rindu padamu...?”
Bertekuk lutut aku di hadapan samudera pagi yang
bergemuruh, pasrah akan semua keadaan, menundukan kepala seolah tak berdaya
berharap samudera pagi menunjukan jejaknya. Tapi tak mungkin, kau hanya bisa
mentertawakanku dengan desir pasir yang kau sapu, terbahak-bahak dengan gemuruh
ombakmu. “Baiklah, kalau kau tidak mau
memberitahuku biarlah aku belajar mencarinya sendiri." Ucapku pasrah.
Aku merasa kian marah saja. Darah naik ke
ubun-ubunku. Kepalaku terasa mau pecah. Marah yang luar biasa.
Ku berjalan menyusuri pantai tak perduli disekeliling
menatapku curiga, aku terus mengoceh tak karuan, "Pergi
saja kau perempuan senja. Kau
telah menyakitiku dengan pertanyaan pahit ini. Kau menyudutkanku dengan
pertanyaan itu. pertanyaan siang, malam,
asalmu, semua tak ada jawaban . kau bangkitkan kelemahanku yang tidak
mengetahui sebagian waktu. Kau tahu, matahari
hanya milik sebagian orang. Bukan aku, bukan kamu...," emosi mulai ku pendam.
Tak terasa langkah ini mengantarkan ku ketempat peraduan,
ketempat yang tau bagaimana aku menyaksikan siang. Kubanting
pintu dengan kemarahan yang luar biasa. Tapi
kini tak seperti biasanya aku menikmatinya, menikmati matahari memancarkan
cahanya, Perempuan itu telah membuat aku tak bisa
tidur sepanjang siang tiap kali pertanyaannya menghantuiku. Duduk termenung di atas kasur yang sebenarnya sudah
bosan melihat tingkah aneh ku. Pikiranku kosong menatap buntu ke dinding kusam.
Waktu cepat berlalu, matahari mulai pergi tanpa pamit. Gulita datang.
Membosankan , akhirnya aku pergi tapi tak ke tempat itu. Ternyata malam hanya
menyisakan waktu seperempatnya. Aku menghabiskan sisa
malam di jalan yang sudah lengang.
Malam sedikit terang oleh cahaya lampu
kota. Separuh
bulan muncul di langit yang tampak kusam. Tiba-tiba selebat perempuan langit berpindah arah dengan
selendang. Amarahku tiba-tiba hilang, aku
teringat dia. Tanpa pikir panjang Aku berlari ke tempat itu, berharap perempuan senja datang mencariku, membawa berita untuk menjawab semua ini. Aku berlari tanpa
peduli apa yang aku lalui, dengan sedikit amarah bercampur harapan. Aku tiba
dengan dengan wajah pucat, dengan keringat mengalir deras di seluruh tubuhku,
nafasku semakin kencang. Tapi hanya tatapan kosong yang aku dapatkan, tempat
itu tak berpenghuni lagi. Kenapa dia tak kembali datang menemaki seperti malam
kemarin, aku ingin tau semua tentang dirimu. Andaikan kau datang, aku kan
memeluk erat jiwamu dan tak akan aku lepaskan, aku hanya berharap kau mau
menemaniku bukan hanya malam, tapi menikmati siangku. Harapan hanya tinggal
harapan, ternyata semua palsu. Mencoba tuk sadar bahwa dia tak kembali menjelma
sebagai bidadari penghuni senja. Itu hanya khayalan, aku mencoba meyakinkan
diri. Tapi keyakinanku kalah level dengan harapanku. “ya Tuhan kembalikanlah
dia” berharap Tuhan mengabulkan. Separuh malam ini aku dipaksa untuk
menghabiskan seorang diri tak seperti kemarin. Terpaksa menerima keadaan pahit
yang teramat sulit aku terima. Semua hilang tak ada burung camar, langit gelap
pekat. Hanya suara desir pasir tersapu ombak yang menemaniku. Sendiri aku diam
dan merenung, begitulah malam itu aku lalui.
Pagi datang dengan
sepercik sesal yang terus menggulung.harapan
kini menjadi angan yang harus ku lupakan . kini petang-petangku yang
datang kemudian aku lalui dengan
hampa. Perempuan senja pergi. Ia tak pernah
datang lagi. Mungkinkah ia kembali ke langit dengan sekeping selendang atau
menyusup ke dasar lautan? Aku tak punya jawaban.
Senja tak pernah ku nikmati lagi ,
serasa membeku, seperti hatiku
yang berupa cadas.
Senja di sore itu menemani kepergianmu
Saat kau tak lagi bersamaku
Perih yang ku rasa mungkin takkan pernah kau gubah
Cinta yang dulu ada kini telah kau bawa
Cinta jangan tinggalkan aku
Karena takkan pernah ada cinta selain dirimu
Cinta takkan sanggup ku menghapus
Segala bayangmu....