Rabu, 26 Maret 2014

Cinta Sepotong Cireng Part 1



Malam itu ketika hujan tak mau pulang, gulitapun menemaninya dan kesendirianku yang tak kunjung henti. mencoba menghilangkan penat aku ikuti keinginan hati menyusuri jalan berlumur cokelat yang dihindari banyak orang karena mungkin jijik. ah masa bodo biarkan langkah kakiku menyusuri jalan parungpanjang. suasana malam itu sedikit berbeda tak seperti biasanya yang panas dan debu-debu jalanan berterbangan. malam itu hanya ada udara dingin, sejuk memang tapi tulang ku terasa tertusuk duri, tetesan air hujan membasahi sedikit demi sedikit lapisan kaos hitam bergaris yang melindungi kulitku, perlahan membasahi juga.



Entah mau kemana langkah kaki ini kan berhenti terus menapaki beton-beton yang diselimuti air hujan. “Hmm kenapa malam ini sepi?” gumamku. kemana riuh pikuk yang selama ini menemaniku. Membosankan. Tiba-tiba langkah kaki ini terhenti. Terdengar riuh pikuk orang berebutan. Dikira orang mengantri pembagian sembako. Tapi penasaran, akhirnya kuputuskan untuk menghampiri. Sebelum aku sampai beberapa orang mulai pergi, mungkin mereka sudah mendapatkan bagiannya. Terlihatlah tulisan warna hijau yang kusam yang sudah banyak terkelupas “CIRENG ISI CUMA RP. 1000” hmm ternyata cuma cireng. Tapi di ppikir-pikir lumayan juga buat menemani malam ini.

Ku angkat lima jariku belum berbicara  tapi tiba-tiba “bang 5 dibungkus ya, saosnya sedikit saja” suara lembut seraya menghampiri abang si tukang cireng, sepertinya dia sudah terbiasa membeli cireng disini, terlihat akrab tanpa canggung. Aku hanya bengong, menatap tingkahnya sampai-sampai aku lupa menurunkan kelima jariku yang niatnya ingin memesan cireng, hmm tak berfungsi ni jari.

Diam, itulah aku di saat itu entah setan apa yang merasuki tubuhku, terasa kaku mati kutu, kenapa aku jadi memeperhatikan dia? Siapa dia ? kenapa aku tidak marah karena dia sudah menyerebot ? mulut ini  terasa berat untuk mengucap, apa aku terpesona ? ah mana mungkin. Tapi perlahan dia melirikku, binar matanya membuat jantungku berdegub kencang, ingin rasanya aku menyapa tapi terlalu gengsi, tapi aku ingin sekali mengenalnya. “Hmm siapa namamu ? “ cuma dalam hati. Cemen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar