Nama gue Rafa
Arsyandi ,Rafa panggilannya. Gue adalah siswa kelas tiga di SMP Pembangun
Jakarta . Dalam bidang prestasi , gue bukanlah siswa yang berotak briliant .
Juara dua puluh dari lima puluh siswa slalu jadi langganan gue . Kalo ngomongin
masalah cewek bisa di bilang gue jagonya ,dengan modal tampang yang kata orang
mirip Brad Pitt, dalam seminggu gue bisa dua sampai tiga kali ganti pacar.
“playboy” adalah julukan buat gue
Disekolah gue termasuk cowok yang banyak digandrungi cewek-cewek bisa di bilang gue adalah celebrity-nya sekolah.
Dikelas gue sempat tertarik dengan cewek. Hilma namanya cewek cantik yang bertubuh ramping dan berkulit putih ini terlihat berbeda dari yang lain. Hilma itu cewek yang smart. Mungkin itu alasan kenapa gue tertarik sama dia. Tapi perasaan itu bertahan cuma sebentar gue sudah tidak tertarik lagi sama Hilma, menurut gue Hilma itu gak asik. Terlalu kutu buku banget karena hobinya baca buku.
Seiring dengan berjalannya waktu, Hilma pun terlupakan buat gue dia cuma sebatas teman, gue pun sibuk dengan urusan-urusan pribadi gue.
Tiga bulan menjelang pelulusan, gue disibukan dengan tugas–tugas sekolah. Entah itu ujian praktik, bimbel, atau latihan UN. Kerja klompokpun semakin sering dilakukan, entah takdir atau hanya kebetulan, gue sering banget satu kelompok denga Hilma, sebenarnya enak juga satu kelompok dengan gue jadi tidak usah repot-repot mikir soalnya ada si Hilma yang smart, entah kenapa perasaan yang dulu ada seolah kembali datang, tanpa gue sadari kalau selama ini gue suka sama Hilma, suka yang ke dua kalinya tapi kali ini rasa itu berbeda, lebih menyakitkan karana gue tau Andi temen gue udah lama suka sama Hilma. Gue coba ngalah, gue berusaha melupakan rasa itu. Tapi, semakin gue melupakan malah semakin betambah rasa itu. Gue juga heran, belum pernah merasakan seperti ini, Hilma sangat sulit gue dapetin. Padahal gue selama ini paling gampang banget dapetin cewek, tapi Hilma berbeda . . . .
“Kenapa harus Hilma ?”Tanya gue sama Gerry, Ketua OSIS di sekolah gue. Gerry bilang kalo dihari perpisahan nanti gue diminta untuk bernyanyi duet sama Hilma. “ Hilma itu suaranya bagus Raf. Cocok nyanyi sama lo “. Kata Gerry menjelaskan, keputusan telah tetap, Hilma dan Rafa.
Hilma Hilma dan Hilma selalu.
Latihan. Dan latihan, itu yang gue lakukan saat ini, tidak jarang gue nganterin Hilma pulang kalau latihannya sampai sore, ini kesempatan buat gue untuk dekat lagi sama Hilma, nganterin dia pulang merupakan suatu kebanggaan buat gue hehehehe . . . .
Perpisahan pun dilaksanakan, dengan memainkan gitar gue di panggung diiringi Hilma tentunya, lagu AISHITERU dari ZIHIVILIA dan AKU MAU dari ONCE gue nyanyikan bareng Hilma.
“ Raf, cocok lo sama Hilma “. Kata Derry, sahabat gue usai manggung.
Malamnya, usai perpisahan gue dan Derry pergi ke rumah Hilma, kali ini tekad gue sudah bulat, Hilma harus tau perasaan gue, gue harus bilang sama dia sebelum gue pergi ke Jawa Timur untuk melanjutkan sekolah, Harus ada kenangan sebelum perpisahan. . . .
Rumah hilma terlihat sepi, jantung gue berdegup kencang saat akan mengetuk pintu, gue kurang yakin, “ Maaf dek cari siapa ? “ tanya seorang Ibu yang kebetulan lewat, mungkin tetangga Hilma, “ . . Hmm . . .saya mencari Hilma Bu “, tanya gue dengan gugup, “ Aduh dek, kamu telat, barusan Hilma dan keluarganya pergi mereka pindah kekampung asalnya di Bandung “, Jawab Ibu itu panjang lebar. Dag ! Jantung gue seolah berhenti berdetak gunung es yang sudah membeku seolah mencair saat itu juga. . . .
Derry yang sedari tadi menunggu di motor menghapiri gue yang sedang berdiri terpaku , Derry menepuk bahuku “ Sabar Raf, jalan kita masih panjang, masih banyak harapan, jodoh tak akan kemana, ingat kata pepatah.” Kata - katanya sedikit menenangkan.
Dikeheningan malam gue melihat bulan dan bintang – bintang bertaburan dilangit yang hitam tak terasa pipi gue basah oleh butiran bening dari mata. Hal pertama dalam hidup gue, nangis gara – gara cewek. Kali ini gue cuma pengen menjerit, meneriakan kata “ AISHITERU “ untuk Hilma, sekali lagi. “Hilmaaaa Aishiteru. . . . . !!!
Disekolah gue termasuk cowok yang banyak digandrungi cewek-cewek bisa di bilang gue adalah celebrity-nya sekolah.
Dikelas gue sempat tertarik dengan cewek. Hilma namanya cewek cantik yang bertubuh ramping dan berkulit putih ini terlihat berbeda dari yang lain. Hilma itu cewek yang smart. Mungkin itu alasan kenapa gue tertarik sama dia. Tapi perasaan itu bertahan cuma sebentar gue sudah tidak tertarik lagi sama Hilma, menurut gue Hilma itu gak asik. Terlalu kutu buku banget karena hobinya baca buku.
Seiring dengan berjalannya waktu, Hilma pun terlupakan buat gue dia cuma sebatas teman, gue pun sibuk dengan urusan-urusan pribadi gue.
Tiga bulan menjelang pelulusan, gue disibukan dengan tugas–tugas sekolah. Entah itu ujian praktik, bimbel, atau latihan UN. Kerja klompokpun semakin sering dilakukan, entah takdir atau hanya kebetulan, gue sering banget satu kelompok denga Hilma, sebenarnya enak juga satu kelompok dengan gue jadi tidak usah repot-repot mikir soalnya ada si Hilma yang smart, entah kenapa perasaan yang dulu ada seolah kembali datang, tanpa gue sadari kalau selama ini gue suka sama Hilma, suka yang ke dua kalinya tapi kali ini rasa itu berbeda, lebih menyakitkan karana gue tau Andi temen gue udah lama suka sama Hilma. Gue coba ngalah, gue berusaha melupakan rasa itu. Tapi, semakin gue melupakan malah semakin betambah rasa itu. Gue juga heran, belum pernah merasakan seperti ini, Hilma sangat sulit gue dapetin. Padahal gue selama ini paling gampang banget dapetin cewek, tapi Hilma berbeda . . . .
“Kenapa harus Hilma ?”Tanya gue sama Gerry, Ketua OSIS di sekolah gue. Gerry bilang kalo dihari perpisahan nanti gue diminta untuk bernyanyi duet sama Hilma. “ Hilma itu suaranya bagus Raf. Cocok nyanyi sama lo “. Kata Gerry menjelaskan, keputusan telah tetap, Hilma dan Rafa.
Hilma Hilma dan Hilma selalu.
Latihan. Dan latihan, itu yang gue lakukan saat ini, tidak jarang gue nganterin Hilma pulang kalau latihannya sampai sore, ini kesempatan buat gue untuk dekat lagi sama Hilma, nganterin dia pulang merupakan suatu kebanggaan buat gue hehehehe . . . .
Perpisahan pun dilaksanakan, dengan memainkan gitar gue di panggung diiringi Hilma tentunya, lagu AISHITERU dari ZIHIVILIA dan AKU MAU dari ONCE gue nyanyikan bareng Hilma.
“ Raf, cocok lo sama Hilma “. Kata Derry, sahabat gue usai manggung.
Malamnya, usai perpisahan gue dan Derry pergi ke rumah Hilma, kali ini tekad gue sudah bulat, Hilma harus tau perasaan gue, gue harus bilang sama dia sebelum gue pergi ke Jawa Timur untuk melanjutkan sekolah, Harus ada kenangan sebelum perpisahan. . . .
Rumah hilma terlihat sepi, jantung gue berdegup kencang saat akan mengetuk pintu, gue kurang yakin, “ Maaf dek cari siapa ? “ tanya seorang Ibu yang kebetulan lewat, mungkin tetangga Hilma, “ . . Hmm . . .saya mencari Hilma Bu “, tanya gue dengan gugup, “ Aduh dek, kamu telat, barusan Hilma dan keluarganya pergi mereka pindah kekampung asalnya di Bandung “, Jawab Ibu itu panjang lebar. Dag ! Jantung gue seolah berhenti berdetak gunung es yang sudah membeku seolah mencair saat itu juga. . . .
Derry yang sedari tadi menunggu di motor menghapiri gue yang sedang berdiri terpaku , Derry menepuk bahuku “ Sabar Raf, jalan kita masih panjang, masih banyak harapan, jodoh tak akan kemana, ingat kata pepatah.” Kata - katanya sedikit menenangkan.
Dikeheningan malam gue melihat bulan dan bintang – bintang bertaburan dilangit yang hitam tak terasa pipi gue basah oleh butiran bening dari mata. Hal pertama dalam hidup gue, nangis gara – gara cewek. Kali ini gue cuma pengen menjerit, meneriakan kata “ AISHITERU “ untuk Hilma, sekali lagi. “Hilmaaaa Aishiteru. . . . . !!!